SEJARAH TRANSFORMASI ARSITEKTUR MASJID PENINGGALAN WALISANGA ABAD KE-17 SAMPAI KE-19
Abstract
Penelitian ini mengkaji transformasi arsitektur masjid di Nusantara dari abad ke-17 hingga ke-19, dengan fokus pada adaptasi desain terhadap dinamika sosial, politik, teknologi, dan budaya. Menggunakan metode historis dan analisis arsitektural, penelitian ini mengumpulkan data dari berbagai sumber sejarah dan studi kasus pada beberapa masjid bersejarah seperti Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur masjid Nusantara berhasil mengintegrasikan elemen lokal dengan pengaruh asing. Penggunaan atap bertingkat, ornamen kayu ukir, dan bentuk denah segi empat merupakan contoh adaptasi budaya lokal. Pengaruh kolonial dan perdagangan global memperkenalkan bahan bangunan baru seperti batu bata, mortir, besi, dan baja, serta gaya arsitektural baru seperti kubah dan menara, yang mengubah skala dan fungsi masjid.Kesimpulannya, meskipun terpengaruh oleh elemen asing, masjid-masjid di Nusantara tetap mempertahankan identitas lokal yang kuat, menunjukkan ketahanan budaya dalam menghadapi globalisasi. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat komunitas dan simbol identitas budaya. Transformasi arsitektur ini mencerminkan sejarah dan budaya yang terus berkembang, memperkuat peran masjid dalam kehidupan sosial dan kultural masyarakat Muslim di Nusantara.

