JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam https://www.tamaddun.fah.uinjambi.ac.id/index.php/tamaddun <p><img style="width: 200px; padding-right: 10px;" src="/public/site/images/zami/IMG-20190513-WA00002.jpg" align="left"><strong>Jambe :</strong> Jurnal Sejarah Peradaban Islam terbit dua kali dalam satu tahun (Januri dan Juli). Pertama kali terbit tahun 2019 dan merupakan kumpulan hasil karya dosen, sejarawan, peneliti dengan lingkup kajian Sejarah dan budaya Islam, karena itu menjadi wadah perkembangan ilmu sejarah dan peradaban islam yang kritis, dinamis dan aktual. Jurnal <strong>Jambe</strong> memuat dan mengkomunikasikan artikel-artikel hasil penelitian dan karya ilmiah yang berkaitan dengan sejarah Peradaban Islam yang <strong>memfokuskan kajian pada bidang sejarah/budaya</strong><strong> melayu Indonesia dan melayu jambi khususnya. </strong>Jurnal ini diterbitkan oleh Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sutlhan Thaha Saifuddin Jambi, baik edisi cetak maupun online. Jurnal ini bertujuan menyebarluaskan hasil kajian dan penelitian serta penelaahan pustaka tentang keilmuan Sejarah/budaya melayu Indonesia, khususnya Sejarah melayu Jambi.</p> Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi en-US JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam 2715-9515 SEJARAH PERKEMBANGAN SASTRA ARAB DI ABAD PERTENGAHAN (ABAD 7-13 MASEHI) https://www.tamaddun.fah.uinjambi.ac.id/index.php/tamaddun/article/view/222 <p>Abad Pertengahan di abad 7-12 Masehi era Bani Umayyah dan Abbasiyah, merupakan masa puncak Peradaban Islam yang signifikan, yang tidak hanya menyaksikan kemajuan dalam Agama dan Sains, tetapi berkembang pesat dalam bidang literatur Arab. Sastra Arab, yang berakar kuat pada tradisi lisan di era <em>Jahiliyah</em> dan periode awal Islam (<em>Shadr al-Islam</em>), mengalami perubahan besar hingga &nbsp;menjadi bentuk yang lebih terstruktur, beragam genre-sastra, dan karya ilmu bahasa lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-deskriptif dengan metode kajian pustaka (<em>library research</em>). Peneliti mengumpulkan data dari sumber buku-buku sejarah sastra klasik dan modern&nbsp; beserta jurnal ilmiah yang membahas perkembangan sastra Arab, kemudian langkah berikutnya yaitu &nbsp;menganalisis data untuk melihat hubungan sastra dengan kondisi sosial pada masa itu.Setelah data terkumpul, peneliti melakukan verifikasi atau kritik sumber untuk menguji otentisitas fisik teks serta kredibilitas isinya. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa Sastra Arab di Abad Pertengahan adalah cerminan dari kemajuan peradaban Islam yang kompleks dan dinamis. Periode ini tidak hanya mengukuhkan puisi sebagai mahkota sastra Arab, tetapi juga meletakkan dasar bagi perkembangan prosa modern, kritik sastra, dan narasi populer.</p> Fajar Nur Syah Alam Copyright (c) 2026 JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam 2026-01-19 2026-01-19 8 1 1 14 10.30631/jambe.v8i1.222 TRADISI BETANGAS MENGGUNAKAN SEREH WANGI SEBAGAI WARISAN MASYARAKAT MELAYU DI DESA KEMUNING MUDA https://www.tamaddun.fah.uinjambi.ac.id/index.php/tamaddun/article/view/232 <p>This study aims to examine the tradition of betangas using citronella grass (<em>Cymbopogon nardus</em>) as part of the cultural heritage of the Malay community in Kemuning Muda Village. The study employed a qualitative descriptive ethnobotanical approach through in-depth interviews, observation, and documentation involving key informants such as community elders and women who have practiced betangas. The findings indicate that betangas is a premarital ritual that functions as a form of physical cleansing, mental preparation, and symbolic purification for the bride. Citronella grass (<em>Cymbopogon nardus</em>) is used as the main ingredient because of its fragrant aroma and its perceived antiseptic, refreshing, and deodorizing properties. This tradition also embodies social and spiritual values that strengthen community bonds and maintain cultural continuity. However, modernization has led younger generations to gradually abandon this practice. Therefore, documenting the betangas tradition is important as an effort to preserve local knowledge and the intangible cultural heritage of the Malay community.</p> Anggini Istikhomah Copyright (c) 2026 JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam 2026-01-27 2026-01-27 8 1 15 23 10.30631/jambe.v8i1.232 SIRIH DAN PINANG: SIMBOL ADAT DAN PENGOBATAN TRADISIONAL MASYARAKAT MELAYU JAMBI https://www.tamaddun.fah.uinjambi.ac.id/index.php/tamaddun/article/view/236 <p>Penelitian ini mengkaji peran sirih (Piper betle L.) dan pinang (Areca catechu L.) dalam kehidupan rumah tangga masyarakat Melayu pesisir di Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Fokus penelitian diarahkan pada dua aspek utama, yaitu pemanfaatan sirih–pinang sebagai bagian dari pengobatan tradisional dan sebagai simbol adat dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi pustaka. Informan penelitian terdiri atas tokoh adat, pelaku pengobatan tradisional, serta masyarakat yang masih mempraktikkan penggunaan sirih–pinang dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirih dan pinang dipercaya masyarakat memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan mulut, mengatasi keluhan ringan, serta menjaga kebugaran tubuh, yang pemanfaatannya didasarkan pada pengetahuan turun-temurun. Selain itu, sirih–pinang juga memiliki makna simbolik yang kuat sebagai lambang penghormatan, kesantunan, dan keharmonisan sosial dalam berbagai kegiatan adat. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa meskipun praktik ini masih bertahan, pemahaman generasi muda terhadap fungsi medis dan makna budaya sirih–pinang cenderung mengalami penurunan. Penelitian ini menegaskan pentingnya dokumentasi dan kajian etnomedisin untuk memperkuat pelestarian pengetahuan lokal masyarakat Melayu pesisir. Penelitian ini juga menunjukkan adanya dinamika perubahan dalam praktik penggunaan sirih–pinang di tengah modernisasi, yang memengaruhi pola pewarisan pengetahuan lokal. Dengan demikian, kajian ini memberikan kontribusi empiris dalam memahami keberlanjutan etnomedisin dan simbol budaya Melayu pesisir pada konteks lokal yang spesifik.</p> M.arif januarda Saputra Copyright (c) 2026 JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam 2026-01-30 2026-01-30 8 1 24 33 10.30631/jambe.v8i1.236 SIKLUS PERADABAN NUSANTARA: ANALISIS HISTORIS-FILOSOFIS TEORI OSWALD SPENGLER TERHADAP DINAMIKA SEJARAH INDONESIA https://www.tamaddun.fah.uinjambi.ac.id/index.php/tamaddun/article/view/204 <p>Lintasan sejarah Indonesia mengungkapkan pola dinamika peradaban yang kompleks, dari zaman keemasan kerajaan kepulauan hingga era kolonialisme dan kemerdekaan. Filsafat sejarah Oswald Spengler, khususnya teori siklus peradabannya, menawarkan kerangka teoretis untuk memahami kebangkitan dan kemunduran peradaban-peradaban ini. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan dan keruntuhan peradaban Indonesia menggunakan teori siklus Spengler dan mengevaluasi relevansi teori ini dalam konteks sejarah Nusantara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis-filosofis, menganalisis karya-karya utama Spengler bersama dengan sumber-sumber sejarah Indonesia untuk mengidentifikasi pola-pola siklus peradaban. Sejarah Indonesia mencerminkan empat fase siklus Spengler: musim semi (kedatangan pengaruh Hindu-Buddha, abad ke-1–5 M), musim panas (pembentukan kerajaan, abad ke-4–7 M), musim gugur (puncak kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, abad ke-7–15 M), dan musim dingin (kolonialisme, abad ke-16–20 M). Setelah kemerdekaan, Indonesia memasuki siklus baru pada fase musim semi (abad ke-20) dan saat ini berada pada fase musim panas (abad ke-21). Hasil penelitian ini adalah Indonesia mengalami kelahiran, perkembangan, kejayaan, dan keruntuhan selama kurang lebih 1500 tahun. Teori Spengler terbukti relevan untuk menganalisis dinamika sejarah Indonesia, meskipun memerlukan modifikasi untuk mengakomodasi konteks lokal, seperti pengaruh Islam dan ketahanan budaya Nusantara.</p> Lutfi Naufal Copyright (c) 2026 JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam 2026-02-03 2026-02-03 8 1 34 47 10.30631/jambe.v8i1.204